Assalamu'alaikum...

Blog ini sudah jarang diupdate! Untuk update terbaru silahkan kunjungi blog baru saya. Terima kasih! =D

Mereka Adalah Pejabat Bersih Indonesia!

Mungkin sulit membayangkan bagaimana sosok para pejabat bersih di Indonesia. Secara kata ‘pejabat’ sudah di cap errr… sedikit buruk di mata publik. Mulai dari tukang main wanita, ke-gep selingkuh (ada video pornonya pula!), korupsi, hura-hura dan hal-hal lain yang tidak pantas dilakukan oleh para manusia pengemban amanah ini.

Tapi, jangan salah bung, pejabat-pejabat berhati malaikat (boleh tidak dikatakan seperti ini?) masih ada lho di Indonesia. Walaupun mayoritas dari mereka berstatus ‘mantan’, namun tetap saja bisa menyegarkan dahaga kita sebagai warga Indonesia yang rindu akan pejabat yang bersih dan bersahaja. Mereka inilah orangnya!



1. Prof Dr Emil Salim

Meski tiga kali menjadi menteri -- Menteri Perhubungan, Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup (PPLH) serta Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup (KLH) -- Emil justru tak terpikir untuk membeli rumah semasa memangku jabatan. Ia hidup di rumah dinas dengan fasilitas yang disediakan negara.

Sebelumnya, kemenakan H. Agus Salim ini, memang telah memiliki satu rumah di Jl. Tosari No. 75. Dibeli pada 1968, rumah itu dikontrakkan.
Dari kontrakan tersebut, Emil mendapat hasil sampingan yang
ditabungkannya.

Tatkala menepi dari pusaran kekuasaan pada 1993, doktor ekonomi
alumnus Universitas California ini, terpaksa keluar dari rumah dinas.
Akibatnya, ia baru merasa pahitnya, tidak memiliki rumah. "Saya pun
memikirkan untuk membeli rumah," kisah pengurus ICMI ini.

Akhirnya, ia membeli rumah untuk bernaung bagi dirinya dan istrinya.
"Kalau anak-anak barangkali mereka dibawa suami masing-masing,"
ujarnya. Di saat awal pindah ke rumah baru, menurut seorang aktivis
LSM yang dekat dengannya, Emil tidak memiliki peralatan rumah tangga
yang banyak. "Dia sampai kesulitan untuk beli ranjang," kisah aktivis
itu.

Selain dari berbagai sumber pendapatan, Emil mengaku, kini ia dan
keluarganya hidup dari rumah kontrakan.

Kesederhanaan dan hidup lurus yang dikukuhi Emil Salim ini, membuat
Zainul Bahar Noor SE memujinya. "Emil Salim itu sama bersih dengan
pejabat bersih lainnya. Ia teknokrat yang tidak mementingkan uang,"
puji Dirut Bank Muamalat Indonesia (BMI) ini.


2. Mar'ie Muhammad

Mar'ie Muhammad pun mengesankan pejabat sederhana dan disebut-sebut bersih. Kesederhanaan Menteri
Keuangan ini, tecermin dari penampilannya sehari-hari: mengenakan
safari ke kantor dan lebih senang dengan sarung cap Mangga dan Gajah
Duduk, bila di rumah.

Bahkan, ia pun menekankan kesederhanaan pada keluarganya. Contohnya,
menurut putri bungsunya Rahmasari, mantan Dirjen Pajak ini tidak
membolehkan anak-anaknya menggunakan mobil ke kampus maupun ke
sekolah. Ia pun memilih membawa keluarganya berumroh -- seperti yang
sedang dilakukannya sekarang -- daripada hura-hura ke luar negeri.

Selain sederhana, ia dikenal tegas dan lurus. Contohnya, ia pernah
disebut menolak anggaran taktis dan biaya perjalanan dinas, yang
dinilainya terlampau besar. Di sisi lain, lelaki penggemar jogging ini
berupaya meningkatkan efisiensi dan berusaha membendung kebocoran di
instansi yang dipimpinnya. Tak mengherankan, ia dijuluki Mr. Clean.

3. Satrio Budihardjo Joedono

Semasa memangku jabatan menteri perdagangan, di ruang kerjanya
tersusun guci keramik dan beberapa lukisan. Tapi, ia mengaku membeli
secara kredit, terhadap benda kegemarannya. "Saya tak mampu
membelinya," ujarnya.

Kesederhanaan pun memayungi rumahnya. Saat masih tinggal di kompleks
perumahan menteri, ruang tamunya tidak beraroma kemewahan. Di ruang
tamu rumah bernomor 25 itu, hanya terlihat rangkaian bunga di meja
tamu. Di garasi, ada tiga mobil. Cuma satu yang dimilikinya, mobil
tua. Sedangkan dua lainnya mobil inventaris sebagai menteri dan
pinjaman BPPT.

Kesederhanaannya sempat merisaukan. Ini lantaran Billy akrab dengan
tas kerja yang warna cokelatnya telah memudar. Petugas pun
menggantikannya dengan tas baru saat ia menghadap ke Istana. Ia
menerima tas pemberian tersebut tetapi tetap membawa tas lusuhnya.
Bahkan, ia tidak canggung mengempit tas lusuh ataupun risih dengan
menteri perdagangan dari negara lain, saat pertemuan Kerjasama Ekonomi
Asia Pasifik, November 1994 Lelaki yang karib dipanggil Billy ini pun
dikenal tegas dan lurus. Ia tidak melayani dokumen yang tak memenuhi
persyaratan lengkap. Billy pun dikenal cermat dalam mengunyah laporan
bawahan. "Selamanya dua kali dua adalah empat, bukan delapan," ini
prinsip hidupnya.

4. Ir. Sarwono Kusumaatmadja

Menteri Negara Lingkungan Hidup ini dikenal sederhana dan lugas. Mengaku menekankan
pola hidup sederhana hingga pada keluarganya, Sarwono merasa beruntung
dengan kesederhanaan tersebut. "Kita tidak terjebak konsumtif sehingga
terlepas dari keinginan melakukan hal-hal di luar kemampuan diri.
Korupsi merupakan bentuk upaya mencukupi kebutuhan di luar kemampuan
keuangan keluarga."

Sarwono pun memiliki prinsip tak akan membeli
barang yang kurang bermanfaat dan barang lelangan. "Ini pesan orangtua
saya sebelum meninggal karena menurutnya pemilik barang lelangan itu
menjual secara terpaksa. Kita jangan hidup di atas penderitaan orang
lain." Sarwono sendiri mengakui dirinya tidak bersih betul dari
perilaku itu.

Tapi jika dibanding dengan yang lain, dia merasa
bersyukur berada dalam kondisi yang lebih baik. "Saya senang dibilang
bersih, tapi menurut saya, saya cukup agak bersih-lah," katanya.


5. Hoegeng Imam Santosa

Siapalah di negeri ini yang tak kenal banyolan maut Gus Dur soal polisi: “Hanya ada tiga polisi yang jujur di Indonesia yaitu, polisi tidur, patung polisi, dan Hoegeng..” begitu sabda kyai nyeleneh itu.

Di tengah citra negatif pejabat polisi dan pejabat negara, nama (Alm) Hoegeng Imam Santoso menjadi legenda rakyat. Mantan Kepala Polri di era tahun 1968-1971 ini dikenang sebagai sosok polisi yang “keterlaluan” jujurnya, sederhana, dan berdedikasi tinggi.

Suatu cerita yang sering dikisahkan orang adalah soal kebiasaan Hoegeng—saat menjabat Kapolri–ikut-ikutan mengatur lalu lintas ketika laju kendaraan di jalanan agak tersendat. Tak terbayang betapa salah tingkahnya para anak buahnya ketika Pak Hoegeng beraksi. Salah satu anaknya, Reni mengaku sempat kerap terlambat ke sekolah karena ”kebiasaan buruk” ayahnya yang tiba-tiba turun di tengah jalan untuk mengatur lalu lintas.

Kisah lain yang juga mengharukan adalah betapa kuatnya mental Hoegeng menolak segala macam pemberian orang kepadanya. Jangankan “main 86” (“mendamaikan” suatu perkara dengan tarif tertentu), bagi pria kelahiran Pekalongan itu, hadiah-hadian “tanda kasih” dari siapapun akan ditolaknya mentah-mentah dan mungkin hanya membuat frustrasi pemberinya.

Bahkan, suatu saat Hoegeng dengan ”tega”nya pernah mengeluarkan perabot mewah pemberian orang di dalam rumah dinasnya–yang baru akan ditempatinya—dan meletakkannya di pinggir jalan begitu saja. Dia sendiri tak tahu siapa yang menghadiahinya berbagai perabot itu. Ketika itu dia dan keluarganya baru pindah ke Medan dan baru menjabat sebagai Kepala Direktorat Reserse Kriminal Polda Sumatra Utara tahun 1956. Hoegeng bersikeras hanya mau menempati rumah dinas itu hanya dengan perabot inventaris kantor (Polri).



0 komentar:

Copyright © 2008 - Lembar Mimpi Delmar - is proudly powered by Blogger
Smashing Magazine - Design Disease - Blog and Web - Dilectio Blogger Template