07 Desember 2008

Ujar Seorang Karib di Amerika

Walaupun tampak luar saya kelihatan seperti salah satu dari sekian banyak kaum marjinal di Jakarta, saya memiliki seorang sahabat di salah satu negara adidaya dunia, Amerika Serikat! Namanya Fadly, Muhammad Fadly Lubis nama panjangnya (kalau saya tidak salah). Ia adalah salah satu teman seperjuangan menghadapi ketidakseimbangan persaingan di SMP Negeri 49 dulu.

Menurut cerita yang saya dengar, laki-laki ini memutuskan untuk pindah ke sana untuk ikut dengan pamannya. Kira-kira dua minggu setelah tahun ajaran baru dimulai, dia berangkat ke Amerika. Ketika pertama kali mendengar kepergian sang karib ke Amerika, sempat saya kira bercanda. Eeh, ternyata laki-laki ini benar-benar menginjakkan kakinya di Amerika.

Nah, beberapa hari yang lalu saya buka Yahoo Messenger dan menemukan namanya dalam keadaan online. Dia menyapa saya (dalam bahasa Inggris tentunya) dan saya sapa balik dengan bahasa yang sama. Bung, bahasa Inggris kaum proletar di sana sungguh menjijikkan. Menggunakan kata-kata kotor sudah menjadi barang umum sepertinya. Sungguh kurang bermoral.

Pembicaraan terus mengalir (juga dengan bahasa Inggris tentunya) walaupun saya merasa ada delay yang cukup mengganggu ketika saya mengirimkan message. Mungkin ini akibat dari jauhnya jarak Indonesia-Amerika.

Dia menanyakan kabar mengenai kondisi Indonesia. Saya menjawab dengan memberitahunya sebuah kabar yang mungkin tak pernah diinginkannya apabila ia tinggal di Indonesia : Dollar mencapai level 12000-an.

“Oh man,” katanya. Saya balik menanyakan bagaimana kabarnya di Amerika sana. Ia menjawab bahagia. Rupanya selain sekolah, dia juga bekerja sebagai loper koran di Washington Post. Dan sebagai gajinya, dia mendapat $1089 per bulan! “I’ll be rich in Indonesia! Hahaha!” katanya.

“How come with just throwing some silly papers you get those incredible wages?” tanya saya. “This is America man,” jawabnya. Saya dapat menalar kata-katanya.

Saya bertanya padanya apakah dia merasa nyaman di Amerika, yang notabene bukan merupakan tanah kelahirannya. Dia menjawab amat bahagia, ia bahkan merasa terlahir di sana (sungguh berlebihan). Saya lalu berkata bahwa apabila saya diberi kesempatan untuk tinggal di luar negeri, saya akan tetap tinggal di Indonesia (setidaknya sampai usia saya diatas 18)

Menurutnya, Indonesia merupakan tempat segalanya menjadi gagal. Orang pintar di Indonesia bahkan masih sulit mendapatkan pekerjaan dan gaji yang layak. Berbeda dengan di Amerika dimana semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk maju. Orang Amerika memang independen dan tidak terikat, imbas dari paham liberalis yang sangat deras mengalir di setiap darah warganya.

Nasionalisme menurut laki-laki ini pastilah sebuah hal yang absurd. Saya pun tidak menyalahkannya. Untuk apa mencintai sebuah negara dimana kesempatan kita untuk menjadi manusia berhasil lebih kecil dibanding negara lain? Terdengar egois memang.

Indonesia memang tanah kelahirannya. Namun, saya tidak tahu apakah kata ‘Indonesia’ masih ditaruh dalam perbendaharaan kata di dalam hatinya.

Sungguh berbeda dengan Victor Navorski dalam film The Terminal yang diperankan oleh Tom Hanks. Dalam film tersebut, Navorski, seorang pria dari sebuah negara antah berantah yang fiktif, Krakozhia, selalu menginginkan pulang ke kampung halamannya walaupun Krakozhia sedang konflik besar-besaran. Ia rela menunggu di bandara selama berbulan-bulan demi menepati janjinya kepada sang ayah dan tetap menunggu sampai Krakozhia dinyatakan aman.

Bagaimanapun juga, ini bukan tentang di mana kita tinggal. Tapi tentang di mana kita dilahirkan. Ya, di Indonesia tentunya.

2 komentar:

Khoirunnida mengatakan...

waaaaaah masa saya juga lebih cinta italia dibanding indonesia
-__-

uNieQ mengatakan...

Mba ndut juga ga nasionalis banged, tp tetap cinta deyh ma Indonesia, tetap pengen tinggal di Indonesia, dan tetap cinta laki2 Indonesia hohohohooh

maybe karena masih terlalu muda ninggalin Indonesia, dan mendapatkan keadaan di sana sangat jauh dari Indonesia, jadi cepat terpengaruh kali ya??

ato kekecewaannya terhadap Indonesia sudah sebegitu menggunungnya?? who knows..

moga klo dy kembali, Indonesia masih mau menerimanyaa *hoho kejam banged ga siyh??*